Blog

Joe's Food Blog

26 Januari 2014.

Kejadian mengesankan apa yang terjadi di tanggal ini? Well, gue sendiri gak ngerti kenapa tanggal ini berarti spesial padahal pas tanggal ini terjadi gue gak ngerasa apa-apa. Iya, gak ada apa-apa pas tanggal ini terjadi. But, let's see how this date can change my life with its magical touch.

Jadi, tanggal yang gue tulis di awal post-an ini adalah tanggal dibuatnya grup Whatsapp cewe-cewe gak jelas atau sebut aja Olsixte. Jujur aja, gue gak pernah tahu ataupun nyari tahu kapan grup itu dibentuk. Toh gak ada gunanya juga. Tapi entah kenapa sekarang tanggal itu punya arti sendiri. Guess what? Tanggal itu sekarang jadi tanggal memperingati harinya 8 cewe-cewe gak jelas. (Udah kaya apaan aja diperingati)

Bicara tentang 8 cewe-cewe gak jelas, gue sendiri gak tahu kenapa gue bisa deket sama mereka. Bahkan awalnya ngerasa asing kalo ada di deket mereka. Tapi itu cuma awal. Setelah kenal mereka lebih jauh dan mencoba untuk bisa berbaur satu sama lain, ternyata semuanya berubah seratus delapan puluh derajat dari mindset gue pas pertama kali kenal mereka.

Mereka semua gila. Absurd. Gak jelas. Tukang Galau.

Mungkin postingan ini bakal jadi postingan yang paling panjang kalau gue describe mereka secara detail satu per satu. Mulai dari Awe si biduan yang pernah sekelas dan satu ekskul waktu SMP tapi baru deket sekarang, Farras si joki kecil suka kehilangan benda apapun yang dia punya termasuk hati, Wilis yang jago ngepang dan banyak yang bilang kaya putri Solo, Lungga yang tegas dan kalo lagi baper katanya serem, Mella yang suka nyanyi ngirim di Voice Note karena suaranya bahaday, Salsa anak 99 yang terlalu polos, dan Dera yang suka goyang dangdut dimanapun dia berada.

Kalau bicara tentang apa aja yang udah dilakuin bareng mereka, jawabannya banyak banget. Ibarat kata, susah seneng bareng-bareng. Ketawa bareng-bareng. Galau bareng-bareng. Baper bareng-bareng. Nangis bareng-bareng. Semuanya bareng-bareng. Terlalu berlebihan juga sih kalau dibilang semuanya bareng-bareng, tapi seenggaknya begitulah.

Semuanya berawal dari tugas membuat mading. Semuanya serba mendadak. Ngerjainnya H(hour)-2. Disitu gue masih ngerasa asing karena yang paling gue kenal di situ cuma Farras, itu juga karena sekelas. Tapi untungnya kita berhasil membuat mading hanya dalam waktu kurang dari 2 jam. And I think, our story started here.

Entah tugas mading itu yang membuat kita lebih deket satu sama lain atau mungkin karena hal lain, gue sendiri kurang tahu.

Hal selanjutnya yang paling gue inget itu waktu kita nyadan (re: Nyari Dana) di UI. Ini kali pertamanya kita nyari dana untuk suatu acara. Awalnya agak sedikit terhambat karena pagi-pagi hujan, tapi kalau udah niat ya niat, mau apapun halangannya tetap harus jalan. Alhasil kita tetap nyadan di UI, dengan kondisi hujan gerimis ditemani dengan beberapa payung pink super unyu.

Nyadan kedua, tempatnya bukan di UI lagi, tapi di HI. Bisa dibilang nyadan kali ini sambil CFD. Awalnya sih lancar, tapi setelah di hitung-hitung ternyata lebih untung nyadan di UI. Jadiin pengalaman aja.

Selanjutnya tentang Star Party. Star = Bintang, Party = Pesta, Star Party = Bintang Pesta Pesta Bintang. Entah kenapa semenjak SMA gue jadi tertarik dengan hal semacam ini. Apalagi semenjak ikut Star Party, rasanya baru kali itu gue liat langit yang bener-bener cerah, sampai gue bisa ngenalin beberapa bintang, hanya beberapa. Oke, lupakan. Bukan hal ini yang mau gue bahas.

Jadi di Star Party pertama gue, tepatnya di SMAN 89, gue mendapat beberapa hal yang berkesan. Well, gue sama sekali gak berniat buat ngejabarin apa aja yang membuat gue berkesan selama di sana. Yang jelas, gue bener-bener bahagia bisa ikut Star Party itu, bisa ketawa bareng sampai pagi walaupun sebenarnya gagal ngamat.

Star Party kedua di Gymnasium IPB. Langitnya keren banget. Dan yang hadir pun juga keren banget. Awalnya gue takut Star Party ini gak akan seseru Star Party sebelumnya karena kali ini peserta yang ikut terlalu banyak, bahkan dari setiap kelas di kelas 10 bisa lebih dari 5 orang. Tapi ternyata gue salah. Kita tetap ngumpul berdelapan, tetap ngegosip bareng, tetap ketawa-ketawa bareng, dan tetap kemana-mana bareng. Gue berharap Star Party besok gak akan jauh berbeda dengan Star Party tahun lalu, tapi sepertinya hal itu sedikit tidak mungkin. Karena sekarang kita bukan lagi kelas 10 yang diawasi oleh kelas 11, tapi kelas 11 yang harus mengawasi kelas 10.

Lepas dari Star Party, gue mau mengingat tentang karaoke. Pertama kali karaoke cuma sama Farras, Mella, dan Awe. Itu juga mendadak karena gak ada kerjaan di rumah. Karaokean yang kedua itu ditraktir sama Salsa, dan disitu kita ngumpul berdelapan. Semuanya gila. Joget gak jelas, Ngambil foto dan video di sana-sini. Menggalau dengan lagu CDT-nya Awe, teriak-teriak gak jelas, semuanya serba gak jelas. Tapi justru ke-gak jelasan mereka lah yang akan selalu gue ingat.

Selesai karaoke, kita gak langsung pulang, tapi mampir dulu di tempat andalan kita (re: KFC). Ngobrol panjang lebar, ngegosip entah apa sampai gak inget waktu dan tiba-tiba aja udah maghrib. How cool!

Yang paling gak boleh ketinggalan dari semuanya adalah saat HAAJ. Saat dimana kita malam mingguan bareng. Saat dimana kita jalan dari stasiun Cikini ke Planetarium dan sebaliknya bareng. Saat kita mampir ke KFC Cikini dulu sebelum pulang. Saat kita selalu duduk ngemper di kereta paling pojok. Saat kita selalu ngegosip dan berisik di dalam kereta. Saat kita ngegodain dan digodain sama masinis. Dan saat-saat lainnya yang belum gue sebut. Semuanya punya kesan tersendiri buat gue.

Bahkan grup super absurd yang selalu menuhin notification gue juga punya begitu banyak kesan buat gue. Mulai dari drama left-join yang pernah beberapa kali atau bahkan sering terjadi. Pembaperan di malam minggu karena suatu hal. Malam minggu edisi move on yang dipenuhi dengan quotes-quotes tentang move on. Ajang kirim-kiriman Voice Not yang isinya kadang gak jelas. Ngomongin cowok sampai bikin panggilan tersendiri. Dan mungkin masih banyak lagi hal lain tapi gak gue tulis disini. Karena kalau semuanya gue tulis disini, entah selesainya kapan.

Dari awal postingan ini sepertinya semua yang gue tulis cuma tentang seneng-seneng bareng. Tapi itu bukan berarti kita gak pernah ngerasa susah. Tapi itu juga gak berarti gue harus nulis kesusahan kita saat bareng-bareng kan?

Well, gue gak tahu kenapa tiba-tiba aja gue nulis postingan ini. Cuma lagi pengen ngeblog aja setelah sekian lama gak ngurusin blog yang udah hampir kadaluarsa ini. Dan kebetulan banget pas dengan tanggal 26 Januari, jadilah gue menulis tentang hal ini.

Jadi intinya, tanggal 26 Januari itu bukan tanggal dimana kita ikut Star Party bareng, ataupun koraokean bareng. Tapi tanggal itu jadi patokan dimana kita mulai semuanya, semua yang kita lakuin lebih dari satu tahun ini.

I'm sorry if I didn't say any special words on this special day. Because for me, the language of friendship is not words, but meanings.

Rivalitas antara klub sepak bola Barcelona dan Real Madrid sangat jelas terasa di setiap laga yang bertajuk "El Classico" itu berlangsung. Banyak sekali kejadian tidak biasa yang mewarnai pertandingan antara dua klub besar Spanyol tersebut, yang pastinya menjadi hiburan tersendiri bagi para pecinta sepak bola.

Usut punya usut, rivalitas diantara keduanya bukan hanya sekedar rivalitas di atas lapangan hijau. Banyak orang yang mengatakan, perseteruan antara Real Madrid dan Barcelona merupakan perubahan arena perjuangan politik dalam bentuk olahraga sepak bola. Mengapa bisa?

Mari kita mengintip pada sejarah kedua kota tersebut.


Catalan merupakan julukan bagi warga yang mendiami Catalonia, wilayah yang berbatasan dengan Perancis bagian selatan, Laut Mediterania di sebelah timur serta wilayah Spanyol Aragon dan Valencia di barat. Catalonia terdiri dari empat subprovinsi, yakni Barcelona, Girona, Lleida dan Tarragona.

Bangsa Catalan tidak pernah merasa diri mereka sebagai bagian dari Spanyol. Kerajaan Spanyol menaklukkan wilayah Catalonia pada 1714. Sejak itu, selama tiga abad rakyat Catalan terus berjuang untuk memisahkan diri dan menjadi bangsa sendiri.

Upaya melepaskan diri dari Spanyol bahkan menjadi pemicu perang saudara pada 1930. Seusai perang saudara, diktator Jenderal Francisco Franco yang berkuasa melarang semua budaya dan bahasa Catalan. Mengucapkan bahasa dan budaya Catalan di tempat umum ditetapkan sebagai tindakan illegal. Singkat kata, nasionalisme di Catalan diberangus habis.

Barcelona, merupakan ibukota provinsi Catalonia, yang juga merupakan kota terbesar kedua di Spanyol setelah Madrid. Sebagian besar dari mereka berasal dari bangsa Catalan dan Basque. Ketika Franco berkuasa, ia melarang penggunaan bendera dan bahasa daerah Catalan. Barcelona kemudian menjadi tempat dimana orang-orang Catalan dapat berkumpul dan berbicara dengan bahasa daerah mereka. Hal ini membuat Franco geram.

Franco kemudian bertindak lebih brutal. Pada tahun 1936, Presiden Barcelona Joseph Sunol tewas dibunuh oleh pihak militer. Tahun 1938, sebuah bom dijatuhkan di FC Barcelona Social Club atas perintah Franco. Di atas lapangan, Barcelona dipaksa untuk mengalah dari Real Madrid pada tahun 1941. Franco saat itu begitu mengagungkan Madrid saat itu. Barcelona akhirnya kalah 1-11.

Sejak saat itu, Barcelona akhirnya mejadi simbol perlawanan Catalonia terhadap Franco dan Spanyol. Selain Barcelona ada juga klub Athletico Bilbao dan Espanyol. Bilbao bahkan tetap memakai pemain asli Basque, meski akhirnya tidak memiliki prestasi sementereng Barca. Kalau saja mereka berhasil memisahkan diri dari Spanyol, bukan tidak mungkin yang akan menjadi juara dunia adalah Catalan, bukan Spanyol. Sampai sekarang, Catalan, cukup puas menjadi tim nasional untuk pertandingan-pertandingan persahabatan.

Nasib bangsa Catalan membaik sejak Spanyol menganut sistem demokrasi pada 1977 setelah kematian Franco. Catalonia pun memperoleh status otonomi pada 1979. Namun pemberian itu tidak serta-merta meredam gerakan-gerakan untuk memisahkan diri. Penyebabnya ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah terus berlangsung. Pemerintah Spanyol dinilai mengabaikan hak-hak bangsa Catalan.

Gerakan memisahkan diri bangsa Catalan juga merebak akibat gelombang nasionalisme Spanyol. Nasionailsme tersebut tumbuh ketika parlemen Catalonia meloloskan undang-undang otonomi lebih luas pada 2006, partai politik dan media Spanyol melancarkan kampanye anti-Catalan. Kampanye itu memicu gelombang emosi bangsa Catalan. 

Bersamaan dengan meningkatnya gerakan-gerakan prokemerdekaan, Catalan mulai menunjukkan perbedaan dengan Spanyol. Misalnya, Catalonia menjadi wilayah pertama di Spanyol yang melarang adu banteng. Sekolah di Catalan menggunakan bahasa pengantar Catalan, sedangkan bahasa Spanyol menjadi bahasa pengantar kedua.

Sampai kapan konflik ini akan terus berlangsung? Tentu saja kita tidak akan tahu. Tapi yang jelas, konflik ini akan semakin membuat pertandingan antara Real Madrid vs Barcelona semakin menarik untuk disaksikan. Ibarat kata, konflik Catalan dengan Spanyol layaknya bumbu penyedap yang akan sangat terasa di setiap pertandingan El Classico.




Sumber :

http://jejaktamboen.blogspot.com/2013/05/sejarah-konflik-bangsa-catalan-dengan-spanyol.html

http://elsaonline.com/?p=30